Evolusi Paspor Indonesia, Dari Masa ke Masa

Evolusi Paspor Indonesia, Dari Masa ke Masa

Di zaman now kekinian ini, bepergian ke Luar Negeri rasanya sudah menjadi kebutuhan yang sifatnya tak lagi tersier. Setiap tahunnya, semakin banyak WNI yang mengadakan kunjungan ke luar Negeri, entah itu untuk sebatas tujuan wisata, berbisnis, atau pun melanjutkan studi di Negeri seberang. Pada awal tahun 2018, Direktorat Jenderal (Ditjen) Imigrasi memprediksi bahwa tren wisata ke luar negeri akan semakin naik. Melonjaknya jumlah permintaan paspor dinilai berkaitan dengan alasan wisata turis Indonesia ke luar negeri.

Semakin terjangkaunya biaya penerbangan ke Luar Negeri dan semakin terhubungnya Indonesia dengan Negara-Negara ‘anti-mainstream’ menjadi salah satu faktor tingginya minat WNI untuk bepergian ke Luar Negeri. Alhasil, sebagian besar dari kita pun semakin paham dan semakin ‘dekat’ dengan dokumen resmi perjalanan Republik Indonesia yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Imigrasi di bawah naungan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, sebuah buku kecil berukuran 9 x 12.5 cm yang kita selalu sapa dengan panggilan ‘Paspor’.

Dalam beberapa tahun belakangan, media-media baik di dunia maya atau pun di dunia nyata tidak henti menebarkan pemberitaan mengenai ‘kekuatan paspor’ dari seluruh Negara di dunia, Indonesia pun tidak luput dari lensa media tersebut. Bagi yang penasaran dengan makna dari kata ‘kekuatan’ dalam konteks peringkat paspor Indonesia, videografis berikut bisa menambah wawasan untuk kita:

Pada akhir tahun 2014, Paspor Indonesia mengalami perubahan desain, baik tampilan sampul depan paspor juga setiap lembar halaman dari awal sampai akhir. Sebutan ‘paspor ijo’ yang seringkali dilontarkan kelihatannya sudah tidak tepat, karena warna dari sampul paspor (biasa) Indonesia versi terkini adalah hijau toska, yang kebiru-biruan. Lalu, seperti apa penampakan paspor dari masa ke masa.

Gambar di atas adalah penampakan sampul depan paspor (biasa) Republik Indonesia terbitan tahun 2003. Pada sampul tersebut, gambar Burung Garuda dengan kokoh berdiri di bagian tengah sampul dengan frase ‘Republik Indonesia’ tepat berada di bawahnya.

Gambar di atas adalah tampilan sampul depan paspor (biasa) Republik Indonesia keluaran tahun 2008. Bila dibandingkan dengan versi sebelumnya, logo Burung Garuda bisa dikatakan mengalami penyusutan ukuran dan terletak pada bagian atas kanan sampul paspor. Frase ‘Paspor Republik Indonesia’ tertera dalam 2 bahasa, Indonesia dan Inggris.

Tahun 2011 merupakan tahun perdana di mana Direktorat Jenderal Imigrasi Republik Indonesia mulai menerapkan penerbitan paspor elektronik yang di kemudian hari seringkali disapa dengan panggilan e-paspor atau paspor biometrik atau paspor-el. Secara kasat mata, akan tampak dengan jelas logo ‘biometrik’ pada bagian bawah kanan sampul depan paspor. Logo tersebut berbentuk tumpukan dua persegi panjang dengan lingkaran tepat di tengahnya. Secara internasional, setiap paspor yang menampilkan logo tersebut akan diidentifikasi sebagai paspor elektronik.

Dan sejak tahun ini pula lah seringkali muncul pertanyaan, ‘Lebih baik mana, paspor elektronik atau paspor non-elektronik?’. Kalau bicara mengenai ongkos, tentu kita perlu merogoh kocek lebih dalam untuk mendapatkan paspor elektronik. Tapi secara kualitas, bagaimana?

E-paspor memiliki data biometrik yang mencakup sidik jari, juga bentuk wajah pemegang paspor yang tersimpan dalam chip dan bisa dikenali lewat pemindaian. Dari segi kelengkapan data, e-paspor terbilang lebih lengkap dan akurat. Data biometrik dalam e-paspor sesuai dengan standar yang dikeluarkan oleh International Civil Aviation Organization (ICAO) dan telah digunakan di dalam paspor berbagai negara lainnya seperti Australia, Amerika Serikat, Malaysia, Inggris, Jepang, Selandia Baru, Swedia, dan negara-negara lainnya.

Para pemegang e-paspor lebih mudah mendapatkan penyetujuan visa kunjungan lantaran mudah diverifikasi oleh negara yang didatangi. Pemegang e-paspor dari Jakarta dan Bali tak perlu lagi mengantre di pintu pemeriksaan imigrasi. Anda bisa langsung menuju autogate untuk memindai e-paspor sebelum masuk ke boarding gate.

Perbedaan biaya pembuatan itu karena adanya sistem chip di e-paspor. Penyimpanan e-paspor juga harus lebih seksama agar paspor tetap bisa digunakan. Kesempatan untuk mendapatkan bebas visa bagi pemegang e-paspor juga terbuka lebar. Salah satu negara yang menawarkan fasilitas bebas visa bagi pemegang e-paspor adalah Jepang

Seperti gambar di atas lah penampilan terkini paspor (biasa) terbitan tahun 2015. Paspor baru, desain baru. Sampul depan pun tidak luput dari ‘dandanan’. Kali ini, Burung Garuda kembali kokoh berdiri di bagian tengah sampul depan, dengan frase ‘Republik Indonesia’ tercantum tepat di atasnya. Frase tersebut hanya tertera dalam satu bahasa saja, yakni Bahasa Indonesia. Tapi, kata ‘paspor’ yang terletak di bagian bawah sampul depan dicetak dalam dua bahasa, Indonesia dan Inggris. Pada bagian paling bawah paspor, tercantum juga logo biometrik.

Ada yang unik dengan paspor Indonesia versi terkini. Tahun lalu paspor Indonesia adalah salah satu dari 10 paspor dengan desain terindah di dunia. Hal tersebut karena setiap dari 48 halaman paspor Indonesia penuh dengan warna dan menggambarkan keindahan alam dan budaya khas Indonesia. Flora dan flora endemik Indonesia juga ikut ‘menghuni’ halaman paspor kita.

Mungkinkah desain paspor Indonesia mengalami perubahan kembali di kemudian hari? Bisa saja.

Saat ini, banyak pihak yang menantikan kehadiran paspor Indonesia dengan halaman identitas berbahan polycarbonate. Apa sih bahan polycarbonate itu? Satu gambar, seribu kata:

Rencananya Ditjen Imigrasi akan menggunakan bahan polycarbonate yang lebih tebal dan kaku dari pada kertas. Nah, semua keterangan langsung dicetak ke dalam material plastik itu. Jadi, tidak ada lagi proses laminasi untuk melindungi foto dan data pemilik paspor. Pengamanan dalam halaman identitas tersebut memang mendapat porsi perubahan paling banyak.

Mengapa hal tersebut penting sekali? Menjadi penting karena lembar itulah yang selama ini kerap dipalsu. Modusnya, menggosok foto dan menggantinya dengan wajah lain. Lebih aman, Tidak bisa digosok-gosok lagi untuk mengganti identitas.

Pembeda lain dengan halaman identitas di paspor lama adalah keberadaan foto. Seperti diketahui, hanya ada satu foto yang tercantum pada halaman tersebut. Untuk kepentingan keamanan, foto dalam paspor kini dibuat menjadi tiga jenis. Di sisi kanan, ada foto dengan teknik tiga dimensi (3D) yang diletakkan di bawah nomor paspor, di ujung kiri ada foto besar dengan teknik cetak biasa. Yang ketiga, foto diletakkan di tengah.

Suatu saat, halaman identitas paspor kita akan terlihat seperti ini:

Berharap, dengan semakin meningkatnya fitur pengamanan paspor Indonesia maka akan lebih banyak lagi Negara di dunia ini yang membuka pintunya kepada wisatawan asal Indonesia untuk menjelajah Negara tersebut tanpa kewajiban visa.

 

SUMBER : goodnewsfromindonesia.id

Tags: , , , , , , , , ,

Related posts